mardi 8 septembre 2020

SKEMA UMUM SEJARAH ISLAM DI INDONESIA

Mata Kuliah

Sejarah Indonesia Masa Islam  

SEJ619202 – 3 sks | Selasa | Pkl. 14.4016.40  Kelas B

Jurusan Pendidikan Sejarah FKIP Untirta

 


SKEMA UMUM SEJARAH

MASUK DAN BERKEMBANGNYA ISLAM DI INDONESIA

Diringkas dari berbagai sumber oleh

Moh Ali Fadillah


PERMASALAHAN

Penyebaran agama Islam merupakan peristiwa penting dalam sejarah Indonesia tetapi proses masuknya Islam ke Indonesia masih belum jelas. Pertama, permasalahan itu muncul antara lain disebabkan oleh terbatasan sumber (Snouck Hurgronje, 1907: Drewes, 1968: 434; Berg 1955: 112). Kedua asal-usul Islam di Indonesia, kapan, mengapa dan bagaimana penduduk Indonesia mulai memeluk agama Islam merupakan masalah yang belum men jawaban yang memuaskan. Selain pertanyaan di atas, juga penting untuk mendapat perhatian terkait dengan konsep dan definisi tentang Islam dalam studi sejarah, apakah Islam sebagai agama ataukah sebagai penganutmya, masing-masing cendekiawan mengkaji sejarah Islam dari perspektif berbeda: sosial, budaya dan juga politik (Azra, 2002: 17;  Ricklefs, 1992: 3).

PROSES ISLAMISASI

Secara geografis, posisi kepulauan Indonesia sangat jauh dari tempat kelahiran Islam di Timur Tengah, maka untuk memulai kajian sejarah Islam perlu memahami terlebih dahulu kondisi social dan budaya Timur Tengah di satu sisi dan juga perlu memahami latar belakang budaya dan social di nusantara  sebelum kedatangan Islam pada sisi lain. Perbedaan jarak dan kultural dapat mempengaruhi berbedaankarakter Islam di tempat perkembangannya.  Itu sebabnya ada pendapat bahwa di tempat lain masuknya Islam didahului oleh penaklukan, tetapi di tempat lain seperti di Indonesia dilakukan tanpa penaklukan (Azra, 2002:18). Menurut Snouck Hurgronje, proses Islamisasi yang terjadi secara damai adalah disebabkan oleh daya tarik agama Islam itu sendiri bagi masyarakat Indonesia (Berg, 1955: 112).

Proses yang terjadi di Indonesia berlangsung secara alami. Para para ahli menggambarkan hal itu melalui dua cara: Pertama, penduduk pribumi berkenalan dengan pendatang beragama Islam kemudian menganutnya. Kedua, para pendatang asing itu, dari berbagai tempat seperti Arab, India, Cina dan tempat lainnya, yang telah memeluk agama Islam bermukim secara permanen di satu tempat di wilayah Indonesia, kemudian berkeluarga dengan menikahi penduduk setempat. Dalam disertasinya Het boek van Bonang, B. Schrieke (1916) menguatkan bahwa selain kontak perdagangan, selanjutnya terjadi pula perkawinan antara  bangsawan Indonesia yang sudah beragama Islam dengan kerabatnya yang belum Islam atau antara bangsawan Indonesia yang belum Islam (perempuan) dengan tokoh ulama penyebar Islam (Berg, 1955: 113; Ricklefs, 1992: 3).

Namun pendapat itu tidak sepenuhnya diterima oleh ahli lain. Ricklefs misalnya, membenarkan bahwa proses Islamisasi tidak diawali dengan penaklukan, namun setelah sebuah kerajaan Islam berdiri adakalanya agama Islam disebarkan oleh kerajaan itu dengan peperangan ke daerah lainnya (Ricklefs, 1992: 21-2). Pendapatnya mewakili versi lain tentang proses Islamisasi di Indonesia, artinya proses penyebaran Islam di Nusantara tidak secara seragam dalam penerimaan Islam antara daerah satu dan lainnya. Perbedaan itu tidak hanya pada soal tahapan waktu, tetapi juga mencakup wilayah geografi dan budaya yang berbeda. Pada masyarakat pesisir yang bersifat terbuka, Islam dengan mudah diterima, sedangkan masyarakat di daerah pedalaman dengan budaya agaris lebih lambat menerima Islam karena masih memegang kuat kepercayaan lamanya.  Oleh karenanya keragaman bukan hanya dikarenakan distribusi geografis, tetapi juga latar belakang sosio-kultural, ekonomi, dan politik sehingga sulit merumuskan proses Islamisasi hanya dengan sebuah teori tentang konversi atau periodesasi umum untuk seluruh Indonesia (Azra, 2002: 18-20).

Untuk menjelaskan proses konversi dari satu agama ke agama yang lain, Azra mengambil pendapat Nock yang mendefinisikan penerimaan Islam sebagai agama profetik yang menuntut komitmen penuh, tidak memberikan kompromi bagi adanya jalan keselamatan yang lain. Tetapi sebagaimana kenyataan yang terjadi bahwa penerimaan Islam di Indonesia masih mempertahankan kepercayaan lama. Oleh sebab itu menurut Azra, penerimaan Islam di Indonesia lebih tepat disebut adhesi, yang artinya adalah konversi ke dalam Islam tanpa meninggalkan kepercayaan dan praktek keagamaan yang lama. Berdasarkan bukti-bukti tersebut dapat ditafsirkan bahwa Islamisasi di Indonesia merupakan suatu proses yang bersifat evolusioner, merupakan suatu proses yang panjang menuju kompromi yag lebih besar terhadap eksklusivitas Islam (Azra, 2002: 20-21).

Berdasarkan historiografi tradisional-lokal ada beberapa hal yang bisa disimpulkan berkaitan dengan proses Islamisasi. Pertama, Islam di Nusantara dibawa langsung dari tanah Arab. Kedua, Islam diperkenalkan oleh para guru atau juru dakwah. Ketiga, orang-orang yang pertama kali menerima Islam adalah para penguasa. Keempat, sebagian besar para juru dakwah datang di Indonesia pada abad ke-12 dan 13. Selain para pedagang yang berperan dalam proses Islamisasi  peranan juru dakwah dianggap sangat penting. Semula juru dakwah digambarkan sebagai satu pengaruh yang searah tetapi pada masa kemudian juru dakwah tidak lagi berasal dari luar tetapi dari orang-orang Indonesia sendiri yang belajar di Mekah.

Sejak Islam berkembang di Asia Tenggara, dinamika Islam di Timur tengah secara berkelanjutan mempengaruhi wacana Islam di dunia Melayu-Indonesia. Dalam hal ini jaringan ulama international yang berpusat di Mekah sangat berperan penting dalam transmisi dorongan pembaruan pada abad ke-17 dan 18 ke kawasan dunia Melayu. Pada mulanya kontak antara kaum muslim di Asia Tenggara dengan para pedagang muslim dari Timur Tengah  terjadi di kota-kota pelabuhan. Selain berdagang mereka sangat berperan dalam memperkenalkan Islam kepada penduduk setempat, tetapi penetrasi lebih intensif agaknya dilakukan oleh para ulama dari Timur Tengah dan Asia Selatan, biasanya mereka tinggal di bawah perlindungan para Sultan (Azra, 2002: 90-91).

Dengan makin berkembangnya kerajaan-kerajaan muslim di Asia Tenggara telah membuka kesempatan kepada para Muslim untuk melakukan ibadah haji ke Mekah. Selain itu, banyak pula yang menetap dan  belajar tentang ilmu Islam. Adanya komunitas “Jawi” sebagai sebutan oleh orang-orang Madinah dan Mekah yang mengacu pada orang-orang Jawa yang tinggal di sana. Istilah Jawi ini sebenarnya tidak hanya terbatas kepada orang-orang Jawa, tetapi juga meliputi orang-orang Melayu, baik Jawa, Sumatra, Semenanjung Melayu dan Patani (Azra, 2002: 91). Menurut Azra sangat mungkin hubungan intelektual dengan dunia Timur Tengah dan Indonesia  sudah terjadi sebelum abad ke-17 mengingat  hubungan ekonomi , politik sudah dilakukan di sepanjang jalur perdagangan dan haji (Azra, 2002: 92).

REFERENSI

Azra, Azyumardi. 1999.  Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII M. Bandung: Mizan, 1999.

Berg, C. C. Het rijk van de vijfvoudige Buddha. (Verhandelingen der Koninklijke

Bruinessen. Martin van. 1999. “Global and Local in Indonesian Islam”, Southeast Asian Studies, Vol. 37, No.2, September 1999. Nederlandse Akademie van Wetenschappen, Afd. Letterkunde, vol. 69,

Carool Kersten. Carool. 2017.  A History of Islam in Indonesia: Unity in Diversity.  Edinburgh: Edinburgh University Press.

Choi, Dong Sull. 1996.  he Process of Islamization and its Impact on Indonesia”, Comparative Civilization Review,  vol. 34, Number 34, Spring  1996.

Drewes, G. W. J. 1966. “The Struggle between Javanism and Islam as Illustrated by the Serat Dermagandul”. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 122: 309-365.

Feener, R. Michael and Anna M. Gade. 1998. Patterns of Islamization in Indonesia: A Curriculum unit for post secondary level eduatiors, Cornell University Southeast Asia Program Outreach.

Graaf, H.J. de and Th.G.Th. Pigeaud (1976). Islamic states in Java, 1500–1700: Eight Dutch books and articles by Dr H.J. de Graaf as summarized by Theodore G.Th. Pigeaud. The Hague: Martinus Nijhoff. [Verhandelingen KITLV 70.].

Johns, A. H. 'Islam in Southeast Asia: Reflections and new directions'. Indonesia no. 19 (Apr. 1975), pp. 33-55.

--. 'Malay Sufism, as illustrated in an anonymous collection of 17th century tracts'.JMBRAS vol. 30, pt. 2 (no. 178) (Aug. 1957).

--'Sufism as a category in Indonesian literature and history'. jSEAH vol. 2, no. 2 (July 1961), pp. 10-23.

Johns, A.H. (1993). ‘Islamisation in Southeast Asia: Reflections and reconsiderations with special reference to the role of Sufism’, Southeast Asian Studies 31–1:43–61.

Lombard, Denys, and Claudine Salmon (1985). ‘Islam et Sinité’, Archipel 30–1:73–94.

Pelras, Christian. 1985. “Religion, Tradition and the Dynamics of Islamization in South-Sulawesi”. In: Archipel, volume 29, 1985. L'Islam en Indonésie I. pp. 107-135;

Pitsuwan, Surin (1985). Islam and Malay Nationalism: A Case Study of theMalay Muslims of Southern Thailand. Bangkok: Thammasat University, Thai Khadi Research Institute.

Reid, Anthony, 1984. The lslamization of Southeast Asia https://books.google.co.id/books/about/The_Islamization_of_Southeast_Asia.html.

Ricklefs, M. C.  1981. A History of Modern Indonesia c. 1300 to the present, Macmillan Asian Histories Series.

Ricklefs, M. C. 'Banten and the Dutch in 1619: Six early "pasar Malay" letters'. BSOAS vol. 39, pt. 1 (1976), pp. 128-36.

Ricklefs, M.C. (2006). Mystic Synthesis in Java: A History of Islamization from the Fourteenth to the early Nineteenth Centuries. Norwalk, CT: East Bridge Signature Books.

Sunarso,  Ali. “Historiography of Indonesian Islam, Historical Analysis of the Transitional Era of Social and Political System in Java in the 15-16th Century and the Contribution of Javanese Kings in Islamization”, International Journal of Islamic Studies and Humanities,  Volume 1, Number 1, April 2018: 9-20.

 

Berikan komentar ringkas

Kelompok 1. Berikan gambaran ringkas tentang kondisi sosial dan budaya Timur Tengah sebelum Islam

Kelompok 2: Berikan rincian singkat beberapa teori tentang proses Islamisasi di Indonesia

Kelompok 3: Tuangkan tahapan waktu perkembangan Islam di Indonesia dari awal masuknya sampai berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia

Kelompok 4: Uraikan peran para cendekiawan (ulama) dalam penyebaran agama Islam di Indonesia

Kelompok 5: Berikan gambaran ringkas tengang jenis kebudayaan Islam baik yang bersifat tangible maupun intangible di Indonesia

Kelompok 6:  Uraikan peran masyarakat Islam dalam menghadapi penjajahan dan pembentukan Negara kesatuan Republik Indonesia

 

4 commentaires:

  1. Assalamualaikum saya Muhammad Ridzky Afrianto dari Jurusan Pendidikan Sejarah Kelas B izin menjawab,jadi kebudayaan islam yang dapat diraba adalah Perkembangan budaya Islam tidak menggantikan atau memusnahkan kebudayaan yang sudah ada di Indonesia. Karena kebudayaan yang berkembang di nusantara sudah begitu kuat di lingkungan masyarakat. Sehingga terjadi akuturasi antara kebudayaan Islam dengan kebudayaan yang sudah ada. Hasil proses akulturasi antara kebudayaan masa pra-Islam dengan masa Islam masuk berbentuk fisik kebendaan (seni bangunan, seni ukir atau pahat dan karya sastra) serta pola hidup dan kebudayaan non fisik. Bentuk lain akulturasi kebudayaan pra-Islam dan kebudayaan Islam adalah upacara kelahiran, perkawinan, kematian, selamatan pada waktu tertentu berbentuk kenduri pada masyarakat Jawa.
    Seni dan arsitektur bangunan Islam di Indonesia sangat unik, menarik dan akulturatif. Seni bangunan yang menonjol di zaman perkembangan Islam di Indonesia adalah masjid, menara dan makam. Seni bangunan Islam yang menonjol adalah masjid yang berfungsi utama sebagai tempat beribadah. Selain itu juga sebagai pusat kebudayaan bagi orang-orang Muslim.

    Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Akulturasi dan Perkembangan Budaya Islam".

    untuk yang tidak dapat diraba seperti lagu


    RépondreSupprimer
  2. Assalamualaikum saya Siti syainatunnisa dari jurusan pendidikan sejarah kelas B izin menjawab mengenai teori masuknya Islam ke Indonesia
    Teori masuknya Islam ke indonesia ada 4:
    1. Teori Gujarat
    Teori ini menjelaskan bahwa Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-13 dan datang dari wilayah gujarat, india melalui peran para pedagang muslim lewat jalur selat Malaka.
    2. Teori Mekkah
    Teori ini menjelaskan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7. Hal ini ditandai dengan adanya perkampungan Islam di pantai barat Sumatera bernama kampung Barus.
    3. Teori Persia
    Teori ini menjelaskan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 yang berasal dari persia. Dalam teori tersebut diungkapkan adanya kesamaan budaya yaang dimiliki oleh beberapa kelompok Islam Indonesia dengan persia.
    4. Teori China
    Teori ini menjelaskan bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui perantara Masyarakat muslim china. Hal ini dikuatkan dengan adanya bukti Raden Fatah (kerajaan Demak) adalah keturunan China.

    Selain itu, bukti adanya Islam di Indonesia ditandai dengan ditemukannya batu nisan Malik as saleh dari kerajaan samudra pasai, dan makam Fatimah binti Maimun

    RépondreSupprimer
  3. Assalamualikum, saya Rani Rizkika Putri, kelas B izin memberikan rincian singkat terkait teori islamisasi Indonesia. Dalam buku Menemukan Sejarah, Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, terdapat 3 teori masuknya Islam ke Nusantara. Pertama, teori Gujarat. Teori ini mengatakan bahwa Islam masuk melalui pendatang dari Gujarat, India. Teori ini pula yang dikemukakan oleh Snouck Hurgronje dari Belanda. Kedua, Islam datang dari Arab (teori Makkah), teori ini berbicara bahwa pada abad ke 7, telah lahir perkampungan islam di pantai Barat Sumatra. Hal ini didukung oleh berita dari China padaasa Dinasti Tang, yang mengemukakan bahwa pada tahun 674, orang-orang dari Arab telah mendirikan perkampungan di Barat Sumatra. Ketiga, teori Persia. Teori ini mengemukakan bahwa terdapat kesamaan budaya antara Nusantara dan Persia.

    RépondreSupprimer
  4. Assalamualaikum , Punten bapak saya Lulu Durrotul Magla angkatan 2019 Kelas B izin memberikan pembahasan pada No.3

    Menurut Thomas Walker Arnold, sulit untuk menentukan bilakah masa tepatnya Islam masuk ke Indonesia. Hanya saja, sejak abad ke-2 Sebelum Masehi orang-orang Ceylon telah berdagang dan masuk abad ke-7 Masehi, orang Ceylon mengalami kemajuan pesat dalam hal perdagangan dengan orang Cina. Hinggalah, pada pertengahan abad ke-8 orang Arab telah sampai ke Kanton.Mengenai tempat asal kedatangan Islam yang menyentuh Indonesia, di kalangan para sejarawan terdapat beberapa pendapat. Ahmad Mansur Suryanegara mengikhtisarkan teori masuknya Islam dalam tiga teori besar.

    Pertama, teori Gujarat, India. Islam dipercayai datang dari wilayah Gujarat – India melalui peran para pedagang India muslim pada sekitar abad ke-13 M. Kedua, teori Makkah. Islam dipercaya tiba di Indonesia langsung dari Timur Tengah melalui jasa para pedagang Arab muslim sekitar abad ke-7 M. Ketiga, teori Persia. Islam tiba di Indonesia melalui peran para pedagang asal Persia yang dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke nusantara sekitar abad ke-13 M. Mereka berargumen akan fakta bahwa banyaknya ungkapan dan kata-kata Persia dalam hikayat-hikayat Melayu, Aceh, dan bahkan juga Jawa. Selain itu pula, temuan Marco Polo juga menyatakan sebagai dampak interaksi orang-orang Perlak di Sumatra Utara, mereka telah mengenal Islam. Selama masa-masa ini, dinyatakan oleh Van Leur dan Schrieke, bahwa penyebaran Islam lebih terbantu lewat faktor-faktor politik alih-alih karena niaga.

    Pandangan lain dari AH Johns dan SQ Fatimi menyebutkan penyebaran Islam bertumpu pada imam-imam Sufi yang cakap dalam soal kebatinan, dan bersedia menggunakan unsur-unsur kebudayaan pra Islam dan mengisinya kembali dengan semangat yang lebih Islami.

    Peta Indonesia berkisar tahun 1674-1745 oleh Katip Çelebi seorang geografer asal Turki Utsmani.

    Di Pulau Sulawesi, Islam menyebar melalui hubungan Kerajaan-Kerajaan setempat dengan para Ulama dari Mekkah dan Madinah, yang sebelumnya pula sempat singgah di Hadramaut untuk menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok Nusantara. Selain itu, pengaruh dari Ulama Minang di wilayah Selatan pulau Sulawesi turut mengantarkan Kesultanan Gowa dan Kesultanan Bone untuk memeluk agama Islam. Sementara itu, pengaruh dari Kesultanan Ternate turut berperan penting dalam penyebaran agama Islam di pulau Sulawesi bagian tengah dan Utara. Salah satu buktinya adalah eksistensi Kesultanan Gorontalo sebagai salah satu Kerajaan Islampaling berpengaruh di Semenanjung Utara Sulawesi hingga ke Sulawesi bagian Tengah dan Timur.

    Selain pengaruh Kesultanan Ternate, Ulama-Ulama besar yang hijrah ke wilayah jazirah utara dan tengah Sulawesi pun turut mempercepat penyebaran agama Islam di wilayah ini. Selain itu, Kesultanan Tidoreyang juga menguasai Tanah Papua, sejak abad ke-17, telah berhasil melakukan upaya penyebaran agama Islam hingga mencapai wilayah Semenanjung Onin di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

    Kalau ahli sejarah Barat beranggapan bahwa Islam masuk di Indonesia mulai abad 13 adalah tidak benar, Abdul Malik Karim Amrullah berpendapat bahwa pada tahun 625 M sebuah naskah Tiongkok mengkabarkan bahwa menemukan kelompok bangsa Arab yang telah bermukim di pantai Barat Sumatra(Barus). Pernyataan yang hampir senada dikemukakan Arnold, bahwa mungkin Islam telah masuk ke Indonesia sejak abad-abad awal Hijriah. Meskipun kepulauan Indonesia telah disebut-sebut dalam tulisan ahli-ahli bumi Arab, di dalam tarikh Cina telah disebutkan pada 674 M orang-orang Arab telah menetap di pantai barat Sumatra.

    Terimakasih
    Wassalamu'alaikum

    RépondreSupprimer