mercredi 15 avril 2020

TEMA, JENIS KOLEKSI MUSEUM DAN ANCAMANNYA


Kegiatan Perkuliahan MfH MK Arsip, Museum, dan Dokumen

Mata Kuliah: Arsip, Museum, dan Dokumentasi | SEJ614418
Jumlah SKS: Teori 2, Praktek
Semester: Genap (IV)
Hari / Kelas: Rabu / 07.30 - 09.10
Materi Kuliah (WfH): Rabu, 15 April 2020 (via jaringan internet)
Dosen Pengampu: Dr. Moh. Ali Fadillah (NIDN 0023105910)

Pert. Ke-12 WfH
Kompetensi Dasar: Mahasiswa mampu menjelaskan jenis koleksi museum dan ancamannya
Materi Pokok:  Jenis koleksi dan ancamannya

TEMA, JENIS KOLEKSI MUSEUM DAN ANCAMANNYA

Moh Ali Fadillah

A.      TEMA MUSEUM

Museum adalah lembaga yang dapat memediasi dua faktor, yaitu faktor benda koleksi dan faktor masyarakat, masing-masing mempunyai tujuan berbeda. Benda koleksi adalah media transfer pengetahuan dan masyarakat sebagai pemanfaat pengetahuan. Museum harus mampu mempertemukan dua kepentingan tersebut sebagai suatu proses untuk mencapai tujuan lembaga. Dalam rangka itulah museum harus dapat menentukan kandungan nilai, makna dan informasi yang dieksplorasi dari benda koleksi, baik dalam rangka penelitian atau pengkajian, pendidikan, maupun kegiatan kebudayaan.

Tema Lembaga
Dengan mengacu pada tujuan lembaga museum: umum atau khusus, nasional atau daerah, pemerintah atau swasta, benda-benda koleksi museum mengharuskan adanya pengelompokan ke dalam tema-tema tertentu sesuai dengan potensi informasi masing-masing koleksi. Jika setiap pengelompokan benda koleksi didasarkan pada tema khusus, maka diperlukan tema besar yang menaunginya, atau sebagai payung dari sub-sub tema dalam menyajikan koleksi secara komprehensif. Melalui pendekatan siklis, tema besar itu dapat digagas dari tugas pokok museum sebagai lembaga permanen. Dalam hal ini, penyelenggaraan museum harus selalu diarahkan pada pencapaian tujuan, yaitu: (1) melestarikan benda alam dan budaya, dan (2) mengembangkan manfaat kekayaan dan keragaman budaya daerah. Kedua tujuan itu pada akhirnya akan mewujudkan visi pembangunan bidang ilmu pengetahuan, teknologi, agama, kebudayaan, pariwisata, dan bidang-bidang kehidupan lainnya.

Tema Umum Koleksi
Berpedoman pada tema lembaga tersebut, pengelompokan benda koleksi akan dipandu oleh tema umum koleksi suatu museum, apakah itu bertemakan sejarah, alam, teknologi, ekonomi, etnografi dan lainnya.

Tema Khusus Koleksi
Mengacu kepada tema umum koleksi, perlu pengkajian terhadap subtema penting dari setiap tema pokok. Misalnya untuk tema sejarah perlunya menabstraksikan setiap periode sejarah. Untuk tema alam diperlukan kajian sejarah alam (history of nature) berikut berbagai fenomena yang bersifat alamih. Untuk tema teknologi diperlukan pengakjian terhadap berbagai penemuan sains dan teknologi yang pernah dihasilkan suatu masyarakat. Untuk subtema ekonomi perlu pengkajian terhadap sumber-sumber kehidupan, eksplorasi dan eksploitasinya bagi pertumbuhan ekonomi. Sedangkan untuk tema etnografi perlu pengkajian terhadap kearifan lokal (local wisdom) suatu masyarakat dan bagaimana kearifan local itu dipraktekan dalam kehidupan sehari dalam berbagai aspek yang dicakupinya.

Tema Penyajian Koleksi
Tema museum tersebut pada akhirnya akan mengerucut ke dalam pengelompokan benda koleksi, yang semakin lama akan semakin banyak jumlahnya. Oleh karena itu berdasarkan atribut atau ciri-ciri kuatnya, baik dilihat dari dimensi bentuk, ruang dan waktu, benda-benda alam dan budaya akan dipilah dan dipilih menurut sub-sub tema di atas. Namun dalam penyajiannya sebagai koleksi yang didisplay, benda-benda koleksi museum itu, dengan mengacu pada konsep dasar edukasi publik (dipamerkan) ke dalam tema penyajian koleksi pada ruang pamer permanen ataupun kontemporer.

Berikan komentar ringkas:
Pentingkah Tema tersebut bagi penyelenggaraan tugas dan fungsi Museum ….!

B. KOLEKSI MUSEUM

Jenis Koleksi
Dengan mengacu pada tema museum di atas, pengelola dapat melakukan pengadaan koleksi. Secara prinsipil, pengadaan koleksi ditujukan untuk penyelamatan dan pemeliharaan suatu benda, melengkapi koleksi, tata pamer sesuai dengan kebutuhan pemilikan koleksi di museum. Dalam hal ini pengadaan koleksi merupakan kegiatan pengumpulan berbagai benda yang akan dijadikan koleksi museum, baik berupa benda asli (realita) ataupun tidak asli (replika).
Pengadaan koleksi musem harus direncanakan dan dilakukan secara baik dan benar sesuai dengan visi, misi dan tujuan pendirian museum yang kemudian diabstraksikan ke dalam tema dan subtema koleksi. Tema dan subtema koleksi museum sesungguhnya merupakan kriteria nilai dalam menentukan benda alam dan budaya menjadi koleksi museum.
Pada umumnya jenis-jenis koleksi museum di dunia dan juga di Indonesia dapat dibedakan menjadi beberapa macam: (1) Etnografika, (2) Prehistorika, (3) Arkeologika, (4) Historika, (5) Numismatika dan Heraldika, (6) Naskah, (7) Keramik, (8) Buku / majalah antikuariat, (9) Karya seni, (10) Benda Grafika (foto dan peta asli / reproduksi dok penting), dan (11) Benda-benda alam (flora dan fauna, batuan dan mineral).

Berikan komentar ringkas:
Ada ide untuk kategori benda koleksi lain ….!

Pengelompokan Benda Koleksi
Pengelompokan seperti disebutkan di atas, pada dasarnya lebih mengacu pada konsep klasifikasi benda berdasarkan perumpunan ilmu atau cabang pengetahuan tertentu untuk tujuan pengkajian.  Pada prakteknya, pembagian tersebut dapat menimbulkan kerancuan makna, karena pada beberapa aspek mempertimbangkan unsur waktu misalnya prasejarah, arkeologi dan historika, tetapi pada aspek lainnya didasarkan pada substansi benda, misalnya dokumen atau arsip, naskah, keramik, dan heraldika. Kelompok benda yang disebut terakhir dalam kriteria waktu, dapat dikelompokan masa prasejarah dan juga masa sejarah. Bahkan tidak sedikit yang berasal dari masa kontemporer seperti benda-benda etnografi.
Untuk menghindari kerancuan pemaknaan terutama dalam penyajian koleksi kepada publik, maka perlu dilakukan dengan dua pendekatan yaitu pendekatan diakronik dan sinkronik. Dengan pendekatan diakronik, benda-benda koleksi harus dilihat dari periodisasi, sedangkan pendekatan sinkronik, benda-benda koleksi akan dikelompokkan pada substansi nilai pengetahuan yang dominan. Dengan demikian pada tema dan subtema seperti diuraikan di atas, pengadaan koleksi museum harus mengacu pada tema dan subtema baik secara diakronik maupun sinkronik.
Pada prinsipnya museum bertujuan untuk menyajikan dan mengkomunikasikan masterpiece alam dan budaya Banten kepada publik. Dalam rangka itu, museum perlu menetapkan sejarah alam dan budaya Banten dalam keseluruhan periode signifikan sesuai dengan pendekatan ilmu sejarah. Bahwa dalam setiap periode itu mengandung banyak pengetahuan tentang alam, manusia dan budaya yang dapat dikelompokkan ke dalam tema teknologi ekonomi, religi dan ritual serta organisasi sosial, yang ketiganya harus dapat diwujudkan dalam bentuk masterpiece museum.
Dari berbagai sumber kepustakaan, periodisasi sejarah Banten berasal dari periode Prasejarah sampai era modern. Selama kurun waktu lebih dari dua milenium itu, terdapat enam periode besar, yaitu periode Prasejarah, kemudian protosejarah sebagai peralihan dari prasejarah ke jaman sejarah yang berlangsung antara abad I Sebelum Masehi sampai dengan abad IX Masehi, dilanjutkan dengan periode Klasik (jaman Hindu – Budha) antara abad IX sampai dengan abad XVI, periode Kesultanan (abad XVI – XIX), periode kolonial (abad XIX – 1945), periode kemerdekaan (1945 – 2000).

Berikan komentar ringkas:
Dengan pendekatan diakronik, perlukah pendekatan secara sinkronik pada setiap periode itu agar masing-masing subtema menunjukkan display yang spesifik ….?

C. PRASYARAT PENGADAAN KOLEKSI

Pengadaan koleksi dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya melalui hibah (hadiah atau sumbangan), titipan, pinjaman, tukar-menukar dengan museum lain, hasil penemuan dalam penelitian (survey dan ekskavasi), barang sitaan, dan dengan imbalan jasa (pembelian dari hasil penemuan atau warisan).
Sebelum dilakukan pengadaan koleksi, benda yang akan dijadikan koleksi museum terlebih dahulu diseleksi dan diproses melalui suatu sistem penilaian, kaidah / aturan tertentu yang semuanya dituangkan dalam suatu kebijaksanan pengadaan koleksi.
Dalam menentukan kebijakan pengadaan koleksi, perlu mempertimbangkan persyaratan sebagai berikut:
1.   Mempunyai nilai sejarah dan nilai ilmiah (termasuk nilai estetika);
2.   Dapat diidentifikasi mengenai wujudnya (morfologi), tipe (tipolologi), gaya (style), fungsi, makna, asal-usul secara historis dan geografis, genus (dalam orde biologi), atau priodenya (dalam geologi, khususnya untuk benda-benda alam);
3. Dapat dijadikan dokumen, dalam arti sebagai bukti kenyataan dan kehadiran (realita dan eksistensi) bagi peneltian ilmiah;
4.  Dapat dijadikan suatu monumen atau bakal jadi monumen sejarah alam dan budaya;
5. Memenuhi skala prioritas, yaitu penilaian untuk benda-benda yang bersifat masterpiece, unik, hampir punah, langka dalam pengertian: masterpiece adalah benda yang terbaik mutunya (adiluhung), unik adalah benda-benda yang memiliki ciri khas tertentu bila dibandingkan dengan benda-benda sejenisnya, hampir punah adalah benda yang sulit ditemukan karena dalam jangka waktu yang sudah terlalu lama tidak dibuat lagi, dan benda langka adalah benda-benda yang sulit ditemukan karena tidak dibuat lagi atau karena jumlah hasil pembuatannya (produksinya) hanya sedikit.

Berikan komentar ringkas:
Apakah masih ada syarat lain suatu benda menjadi bakal koleksi museum …..?

D. ANCAMAN TERHADAP KOLEKSI

Faktor-faktor penyebab kerusakan
Dilihat dari bahan dasarnya, seluruh jenis bakal koleksi atau yang telah teregistrasi menjadi koleksi museum pada umumnya dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu koleksi yang terbuat dari bahan unorganik dan bahan organik Jenis koleksi berbahan dasar unorganik terdiri dari batu, tanah, logam, kaca dan sejenisnya. Sedangkan koleksi berbahan organik terdiri dari tulang, kayu, kertas, kain dan sejenisnya.
Meskipun pembagian ini memerlukan penanganan masing-masing, namun upaya perawatan koleksi harus dilakukan secara menyeluruh karena pada dasarnya semua jenis bahan koleksi mengalami proses degradasi (penurunan kualitas), baik disebabkan oleh faktor eksternal seperti lingkungan, temperatur, kelembaban, cahaya, lingkungan (debu, polusi, jamur, serangga, dan kapilarisasi air tanah), serta manusia (berupa kesalahan penanganan dan pengunjung). maupun faktor internal seperti sifat dasar, jenis dan kualitas bahan koleksi itu sendiri.

Faktor-faktor eksternal
Suhu dan kelembaban; koleksi yang berasal dari bahan organik sangat rentan terhadap naik-turunnya suhu dan kelembaban yang tidak stabil. Fluktuasi kelembaban akan memicu pertumbuhan jamur pada koleksi tekstil dan retakan pada koleksi kayu.
Cahaya; unsur yang paling berpengaruh terhadap kondisi koleksi adalah sinar ultra-violet. Koleksi yang banyak terkena sinar itu akan lebih cepat rusak, karena memicu terjadinya reaksi kimia pada koleksi berbahan organik. Efek sinar ultra violet antara lain terjadi pemudaran warna dan penguraian struktur kimia yang selanjutnya mengakibatkan koleksi menjadi rapuh. Tiga faktor penyebanya adalah: jumlah nilai ultra-violet, intensitas iluminasi (terang tidaknya cahaya) dan lamanya pancaran cahaya.
Serangga; beberapa jenis serangga biasanya menyerang benda koleksi yang berbahan dasar organik, seperti kayu dan tekstil, karena benda tersebut merupakan sumber pakannya. Selain menimbulkan noda dan kotoran pada permukaan koleksi, serangga dapat merusak benda koleksi.
Lingkungan; perlu diperhatikan apabila museum berada di daerah dekat sumber air, air tanah menjadi ancaman yang serius. Air yang naik ke atas melalui dinding bangunan akan menimbulkan kelembaban yang tinggi pada ruangan. Selain itu, polusi udara sekitar museum juga dapat menyebabkan korosi pada koleksi yang mengandung tembaga (copper alloy).
Manusia; juga menjadi faktor penyebab kerusakan koleksi. Dalam hal ini kesalahan penanganan yang dilakukan baik oleh kurator maupun konservator dapat menimbulkan kerusakan koleksi. Demikian pula dengan pegawai lain dan pengunjung museum, intensitas kontaknya dengan koleksi dapat menimbulkan kontaminasi dan mempercepat kerusakan koleksi.
Penempatan koleksi; risiko kerusakan koleksi dapat juga ditentukan oleh ruang penempatannya dalam museum. Hubungan letak dan akibat yang ditumbulkan pada koleksi dapat terjadi pada: ruang pamer dalam vitrin, ruang pamer luar vitrin, storage (di dalam dan di luar vitrin) sehubungan dengan pencahayaan, bahan kimia, jamur atau mikro-organisma, kelembaban, dan hewan (serangga dan pengerat).

Berikan komentar ringkas:
Bagaimana sebaiknya tindakan kita untuk mencegah kerusakan pada benda koleksi museum yang diakibatkan oleh faktor-faktor eksternal ...!

Faktor-faktor internal
Sifat dasar benda koleksi; berkaitan dengan kondisi jenis bahan dengan tingkat kerentanannya baik berupa bahan organik maupun unorganik yang mengakibatkan pelapukan dan kerusakan sebagian atau seluruhnya. Kerusakan pada bahan yang terbuat dari organik seperti bambu, kayu, kertas dan tekstil dapat diidentifikasi berupa deteriorasi biologi (serangga, jamur, mikro-organisme). Untuk bahan yang terbuat dari logam (emas, perak, tembaga, perunggu, kuningan, dan besi dapat mengalami korosi basah dan korosi kering. Sedangkan bahan yang terbuat dari material mengandung silika berupa kecelakaan dalam penangangan ataupun misshanding.

Berikan komentar ringkas:
Kecuali dengan pendekatan modern, adakah cara tradisional untuk perawatan benda organik dan unorganik ...!

Referensi:
Kotler, Neil & Philip Kotler. 1998. Museum Strategy and Marketing, Designing Missions, Building Audiences, Generating Revenue and Resources. San Fransisco, California: Jossey-Bass Inc.
Moore, Kevin (ed.). 1994. Museum Management, London: Routledge.
Plenderleith, H.J. 1956. Conservation of the antiquities and fine-arts: Preservation, Reparation, and Restoration, London: Oxford University Press.
Rufaedah dkk, Dedah. 2006. Pengembangan Museum Nasional. Jakarta: Museum Nasional.
Schmidt, F. 1992. “Codes of Museum Ethics and the Financial Pressure on Museums:, in The International Journal of Museum Management and Curatorship, vol. II (2).
Sedyawati, Edi.  1999/2000. “Profesional, Kepakaran, dan Kesadaran Media untuk Mendongkrak Citra Museum”, Museografi XXIV / No. 2, Departemen Pendidikan Nasional.
Sutaarga, Moh. Amir. 1991. Studi Museologi, Jakarta : Depdikbud.
Sutaarga, Moh. Amir. 1998. Pedoman Penyelenggaraan Permuseuman, Jakarta : Depdikbud.
Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya
Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2015 tentang Museum
Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1995 tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum.
Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. PM.45-UM.001-MKP-2009-Tentang-Pedoman-Pemuseuman.
Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. 34 Tahun 2017 tentang Standar Kompetensi Kerja Khusus Kurator Museum

27 commentaires:

  1. Ismi Novianti (2288180017)
    Menanggapi point mengenai tema museum, perlu adanya tema pada penyelenggaraan Museum hal tersebut untuk mempermudah pengelompokan dari setiap benda koleksi di museum itu sendiri. Untuk koleksi benda di museum banten, belum variatif serta masih banyak benda-benda peninggalan peradaban pada masa lalu Banten yang dipamerkan bukan di museum Banten. Seperti regalia kesultanan Banten, mungkin hal ini karena pengamanan dan pengawasan yang harus ditingkatkan jika benda-benda berharga tersebut disimpan di Museum Banten.

    RépondreSupprimer
  2. Terkait penting kah tema bagi penyelenggaraan tugas dan fungsi museum. Menurut saya itu penting. Seperti yang kita tahu museum memiliki tugas menyimpan, merawat, mengamankan, dan memanfaatkan koleksi museum berupa benda cagar budaya. Yang mana dengan hal ini museum berfungsi sebagai tempat pelestarian dan sumber informasi. Dengan adanya tema di dalam museum, itu akan membantu untuk pengelompokan bagi benda koleksi museum. Dimana dalam hal ini sangat membantu pengunjung, dengan adanya pengelompokan terhadap benda koleksi museum tersebut. Apalagi jika benda koleksi museum tersebut dipamerkan berdasarkan sesuai dengan urutan waktu.

    RépondreSupprimer
    Réponses
    1. Kategori besarnya sudah standar. Tinggal kreativitas para kurator di suatu museum. Untuk itu ada ketentuan khusus tentang kriteria seorang kurator museum. Tks Aulia komentarnya.

      Supprimer
  3. Good morning Ms Ismi et.al. Nice comment ... tema, koleksi dan penyajian merupakan satu kesatuan ide yang dapat menjadi media penelitian dan pembelajaran pengetahuan, kebudayaan dan peradaban. Thank you.

    RépondreSupprimer
  4. Saya Aldo Aldiyansah (2288180020) dari kelompok 6 akan memberiakn komentar pada bagian C yaitu persyaratan pengadaan koleksi, pertanyaannya Apakah masih ada persyaratan lain tentang benda yang menjadi koleksi museum? Koleksi merupakan syarat mutlak dan merupakan rohnya sebuah museum, maka
    koleksi harus: (1) mempunyai nilai sejarah dan nilai-nilai ilmiah (termasuk nilai
    estetika); (2) harus diterangkan asal-usulnya secara historis, geografis dan
    fungsinya; (3) harus dapat dijadikan monumen jika benda tersebut berbentuk
    bangunan yang berarti juga mengandung nilai sejarah; (4) dapat diidentifikasikan
    mengenai bentuk, tipe, gaya, fungsi, makna, asal secara historis dan geografis,
    genus (untuk biologis), atau periodenya (dalam geologi, khususnya untuk benda
    alam); (5) harus dapat dijadikan dokumen, apabila benda itu berbentuk dokumen
    dan dapat dijadikan bukti bagi penelitian ilmiah; (6) harus merupakan benda yang
    asli, bukan tiruan; (7) harus merupakan benda yang memiliki nilai keindahan (master
    piece); dan (8) harus merupakan benda yang unik, yaitu tidak ada duanya.
    Terimakasih

    RépondreSupprimer
  5. Sdr. Aldo Aldiyansah, ada contoh koleksi Masterpiece pada museum yang ada di Provinsi Banten ...?

    RépondreSupprimer
    Réponses
    1. Ada pak contohnya meriam ki amuk yg berada di museum situs kepurbakalaan Banten lama

      Supprimer
  6. via afiah (228818004) menurut saya tema museum, sangat diperlukan atau sangat penting karena dengan kita menentukan tema kita bisa mengelola kolesi museum, memperiodisasikan kolesi koleksi museum.

    cara untuk pencegahan kerusakan benda musem karena factor eksternal.
    1. kita sebagai sejarwan harus rajin mensosialisasikan tetang peninggalan peninggalan sejarah yang terdapat di museum. dan kita harus menberitakukan kepada para masayarakat bahwa kita harus menjaga benda bersejarah di museum bukan hanya petugas museum.
    2. kita juag harsu memberitahukan tetang undag undang cagar budaya yang jika masyarakat melakukan kerusakan atau vandalisme makan masyarkat akan terkena denda atau penjara.

    terimaksih

    RépondreSupprimer
    Réponses
    1. Partisipasi kalangan intelektual sangat penting, karena museum secara prinsipal lembaga ilmiah. Good idea. Tks Ms Via.

      Supprimer
  7. Terkait dengan adanya tema disetiap museum sangatlah penting bagi museum tersebut, tema tersebut dapat mempermudah masyarakat yang ingin berkunjung ke museum. Jika setiap museum memiliki tema maka orang yang berkunjungpun tidak kebingungan dengan museum tersebut. Benda benda yang ada di dalam museumpun tidak sembarangan, barang tersebut yang sudah ditemakan dan memiliki nilai sejarah yang tinggi. Karna benda benda yang bertema museum haruslah dirawat, dijaga, dilestarikan agar benda tersebut tidak hilang dan rusak akibat waktu ataupun karna manusia dan hewan.

    RépondreSupprimer
    Réponses
    1. Nice comment, mengangkat preferensi pengunjung museum. Tks Ms Dwi Riyanti

      Supprimer
  8. Terkait tema museum menurut saya itu sangatlah penting bagi museum itu sendiri karena tema museum itu akan memberikan daya tarik terhadap sebuah meseum, terimakasih

    RépondreSupprimer
    Réponses
    1. Ya selain kognitif museum juga punya atraksi khusus. Special interest in form of tourism

      Supprimer
  9. dengan mengurangi penurunan kualitas pada koleksi museum bisa dengan diberikan standarisasi khusus terhadap upaya pendirian museum seperti standar suhu ruangan, tata cahaya, dan juga bangunan kokoh yang jauh dari sumber bencana seperti banjir. perawatan pada koleksi museum juga harus rutin dilakukan minimal 6 bulan sekali seperti pembersihan dari debu-debu hingga perawatan dari serangga, rayap dan tikus yang dapat merusak bangunan museum

    RépondreSupprimer
    Réponses
    1. Boleh juga diusulkan kepada penyelenggara museum, tetapi biasanya itu sudah pekerjaan rutin.

      Supprimer
  10. Aslikah..
    Tema museum sangat penting sekali dalam menjalankan tugas dan fungsi museum. Tema adalah pokok pikirin atau acuan untuk mencapai tujuan yang diinginkan museum. ketika sudah memiliki tema museum yang jelas maka peaksanaan fungsi dan tugas nuseum akan berfokus pada satu hal. Misalkan tema museum mengenai etnografi, maka fungsi dan tujuannya sudah jelas mengkaji tentang perkembangan sosio-kultural etnik atau masyarakat di satu daerah tertentu

    RépondreSupprimer
    Réponses
    1. Selalu menarik mengunjungi museum tematik, fokus dan menantang bagi pengetahuan khusus

      Supprimer
  11. Mengenai pentingkah tema tentunya sangat penting karena memudahkan untuk mengklasifikasi sebuah periode pada masa lalu dan akan berdampak apabila museum benar melakukan sebuah periodesasi dalam menampilkan objek maka para pengunjung dapat mudah untuk memahaminya dan bisa terebawa oleh suasana yang ada. Masyarakat awam pasti berfikir bahwa museum adalah tempat yang menyeramkan, tidak asik dan membosankan. Amerika Serikat sebuah museum yang menurut saya agak awam mendengar yaitu The Museum of Broken Relationship.

    RépondreSupprimer
    Réponses
    1. Adakah museum seperti itu di Banten, terpikir juga untuk tema sangat spesifik. Misalnya Museum Jawara. Museum Golok konon sudah ada. Thanks.

      Supprimer

  12. Terkait dengan tema museum pentingkah Tema tersebut bagi penyelenggaraan tugas dan fungsi Museum?
    Sangat penting di karenakan museum itu sendiri merupakan lembaga yang dapat memediasi dua faktor, yaitu faktor benda koleksi dan faktor masyarakat, dan masing-masing mempunyai tujuan berbeda. Jadi jika kita kasih tema maka akan semakin mudah kita mencari informasi dan mencari tujuannya. Jadi dalam tema itulah museum dapat menentukan kandungan nilai, makna dan informasi yang dieksplorasi dari benda koleksi tersebut.

    RépondreSupprimer
  13. Thanks so much for all comments. Have a nice day.

    RépondreSupprimer
  14. Muhamad Akbar Choirudin (2288180031)
    Point pada tema museum, didalamnya terdapat beberapa point seperti tema lembaga, tema umum, tema khusus, tema penyajian. Dari pembagian beberapa tema tersebut memang terdapat hal positifnya yaitu terdapat beberapa pembagian yang memang mempermudahkan pengelompokan dari setiap benda koleksi museum itu sendiri bagi penyelenggara museum tersebut.
    Untuk bagian koleksi, menurut saya adalah walaupun sudah ada pembagian jenis tetapi tetap saja tinggal bagaimana pihak museum membuat koleksi koleksi tersebut menjadi menarik / kreatif untuk menarik minat pengunjung dalam mempelajari sejarah melalui museum
    Serta tema, koleksi, penyajian museum memerupakan suatu satu kesatuan ide penyajian yang memang dapat membantu penyelenggara museum.

    RépondreSupprimer
  15. Pina Yulianti (2288180023)
    Menurut saya dari kelima prasyarat dalam pengadaan koleksi, sudah menjadi hal yang mutlak dalam syarat benda-benda atau koleksi museum. Karena sudah mencakup: Pertama, benda tersebut memiliki masterpiece yang merupakan benda yang memiliki mutu yang sangat baik, baik dalam sejarah, sejarah alam, ilmu pengetahuan maupun budaya. Kedua, benda tersebut memiliki nilai sejarah yang pernah digunakan dalam suatu peristiwa. Ketiga, benda tersebut merupakan benda langka yang sulit ditemui. Keempat, benda tersebut unik. Kelima, benda tersebut memiliki nilai estetika yang tinggi. Dan yang keenam yaitu benda tersebut hampir punah artinya tidak diproduksi kembali.

    RépondreSupprimer
  16. Saya Abdul Rohman(2288180006), terkait adanya tema Museum dalam menjalankan tugasnya dan fungsi nya, saya sangat setuju sekali. Karena dengan adanya tema dapat membantu kita untuk mempermudah melakukan perawatan dan juga melakukannya penelitian. Tema dalam Museum berpengaruh juga terhadap daya tarik pengunjung. Oleh karena nya, harusnya standarisasi Museum di Indonesia harus di tingkat agar sesuai dengan tugas dan fungsi Museum.

    RépondreSupprimer
  17. Sdr (i) Akbar, Pina, Rohman dan lainnya, jangan lupa pelajari peraturan perundang-undangan tentang museum beserta ketentuan teknisnya sebagai SOP penyelenggaraan museum. Sedangkan dari sisi performance dan estetikanya amat bergantung pada kreativitas dan inovasi pengelola dengan pertimbangan para kurator. Tks.

    RépondreSupprimer
  18. Mohammad Rafli Fajriansyah (2288180018)
    Tema sangat penting bagi penyelenggaraan museum, karena hal ini dapat mempermudah untuk mengelompokkan museum seperti: Museum Arkeologi, Museum Seni Rupa, Museum Regional, dan Museum-museum lainnya. Tentu hal ini juga dapat mempermudah dalam hal penelitian, selain itu pentingnya tema pada museum juga untuk menarik minat masyarakat agar senang dan tertarik pada museum, karena selama ini museum dikenal sebagai tempat yang membosankan. Padahal museum sangat penting bagi masyarakat luas agar mengenal dan mengetahui sejarah-sejarah yang dialami bangsa ini.

    RépondreSupprimer
  19. Dila Maulida Fadilah (2288180003)
    Terkait koleksi museum, dimana museum sudah memilki jenis-jenis koleksinya tinggal bagaimana upaya dari kita atau pemerintah dapat memlihara koleksi tersebut supaya benda yang ada dimuseum terpleihara denga baik, karena koleksi benda museum merupakan benda yang langka atau hampir punah.

    RépondreSupprimer