vendredi 3 avril 2020

Perjalanan ke Desa Kanekes


Jurnal Kebudayaan dan Pariwisata IX/11, 2004.
Pusitbang Kemenbudpar, Jakarta.

perjalanan ke desa kanekes, banten selatan:
beberapa PERMASALAHAN PARIWISATA baduy

MOH. ALI FADILLAH

Sampai sekarang, wisata budaya Baduy masih terus menjadi subyek promosi pariwisata di Propinsi Banten. Pada setiap musim libur tahunan, kawasan pemukiman Baduy di Desa Kanekes telah menjadi salah satu destinasi wisata baik yang berbasis lingkungan maupun budaya. Namun kunjungan wisatawan itu tetap membawa dampak, di satu pihak memberi manfaat finansial bagi warga sekitar tetapi di lain pihak juga menimbulkan masalah sosial termasuk juga kelestarian lingkungan. Kunjungan PATA Task Force telah merekomendasikan pemecahan masalah tersebut, tetapi sampai saat ini belum mengarah kepada rencana aksi. Sebaliknya, semakin tinggi frekuensi kunjungan wisatawan semakin beragam pula dampak yang ditimbulkannya. Beberapa masalah di lapangan telah menunjukkan semakin rumitnya persoalan pariwisata Baduy, namun sampai kini instansi-instansi pariwisata belum memberikan perhatian seksama terhadap perkembangan pariwisata Baduy.


Pendahuluan
Dalam berbagai bentuk promosi pariwisata, perkampungan Baduy selalu menjadi salah satu destinasi penting bagi perjalanan wisata ke daerah Banten. Lebih-lebih sekarang, sejak daerah bekas Keresidenan Banten menjadi Propinsi pada tahun 2001, promosi pariwisata semakin gencar dilakukan baik oleh instansi pariwisata propinsi, kabupaten maupun oleh sejumlah tour operator atau travel agent.
Dengan menempuh jarak hanya 150 km dari Jakarta ke arah barat daya, komunitas Baduy  selalu diperkenalkan sebagai sebuah potret kehidupan unik suku asli yang berdiam di pegunungan selatan Banten. Nama Baduy pun semakin popular di kalangan wisatawan yang mengenalnya sebagai komunitas asli di pegunungan Sunda (Sunda Highlands) yang masih mempraktekan kepercayaan asli (agama Sunda Wiwitan) dan tradisi kemasyarakatan yang khas serta menggunakan bahasa Sunda tua.
Eksotisme lain yang diperkenalkan dalam dunia pariwisata adalah bahwa orang Baduy tetap mempertahankan kebudayaan mereka meskipun zaman telah berubah. Satu di antara keunikan itu ditunjukkan oleh kekuatan mereka untuk menolak berbagai unsur teknologi modern seperti listrik, irigasi, kendaraan bermotor, paku, sabun dan cermin. Fenomena paling menarik dari wisata Baduy ini adalah kekaguman mereka pada kenyataan bahwa di zaman modern ini, komunitas Baduy masih tergolong masyarakat illiterate (non baca-tulis), dengan alasan bahwa agama mereka melarang pendidikan. Pelanggaran terhadap segala sesuatu yang dianggap tabu (buyut) itu akan berakibat pada permanent exile (keluar dari desa adat Baduy).
Daya tarik wisata lain dipancarkan pula oleh kenyataan bahwa struktur dan sistem sosial masyarakat Baduy sangat unik bukan saja di Indonesia tetapi juga dalam kawasan budaya Asia Tenggara. Banyak unsur budaya tua seperti dari zaman Nirleka (prasejarah), Hindu-Budha, dan juga Islam telah terserap dan disesuaikan dengan tradisi kebudayaan Baduy. Potensi budaya tersebut memungkinkan orang untuk mengelompokkan komunitas Baduy sebagai “Museum Hidup” yang penting bukan saja untuk berbagai studi ilmu-ilmu sosial tetapi juga bagi kunjungan wisatawan baik untuk kepentingan edukatif maupun rekreatif.
Salah satu keunikan nyata yang tetap terpelihara terdapat di kampung Baduy Dalam. Dengan total penduduk sekitar 8000 jiwa, mereka amat taat pada aturan adat (pikukuh) yang diketuai oleh ketiga pu’un (ketua adat) di Cibeo, Cikartawana dan Cikeusik yang sangat kharismatik. Salah satu bentuk pelestarian adat itu telah ditunjukkan oleh Orang Baduy dengan tetap mempertahankan tradisi membangun pemukiman. Rumah-rumah tinggal mereka yang dikenal dengan istilah sula nyanda dibuat dalam bentuk khas dari bahan kayu dari hutan sekitarnya. Demikian pula semua peralatan rumah tangga terbuat dari bahan-bahan sederhana yang disediakan alam sekitar.
Mata pencaharian mayoritas orang Baduy bertani secara sederhana (ladang), mengumpulkan kayu untuk dapur dan juga bahan bakar. Bagi keperluan spiritual, masyarakat Baduy juga mengenal apa yang disebut upacara keagamaan baik untuk kepentingan pertanian, menjaga kelestarian alam, serta juga kesehatan dan keselamatan mereka.
Semua jejak budaya tradisional Baduy itu kini seolah “dijual” oleh berbagai agen pariwisata, tetapi dari sini pula masalah bermunculan. Melalui promosi itulah, kini Desa Kanekes menarik banyak pengunjung, dan sekaligus juga menarik penduduk luar untuk ikut mengambil bagian dalam industri jasa pariwisata. Maka tidak heran di sejumlah tempat berbagai pelanggaran adat menjadi sulit lagi diawasi secara seksama oleh komunitas Baduy sendiri. Demikian pula di jalur-jalur tracking / hicking wisatawan banyak ditemukan sampah. Hal itu telah menyebabkan masyarakat Baduy melakukan pembersihan dalam periode tertentu.
Berkenaan dengan dampak kegiatan pariwisata itu, banyak tokoh masyarakat mempertanyakan kembali kepentingan pariwisata bagi masyarakat Baduy sendiri. Beberapa instansi bahkan telah melakukan upaya penertiban sarana pariwisata di pintu masuk utama di Ciboleger, sekaligus dilakukan upaya-upaya pengamanan agar kenyamanan daerah tujuan wisata dan wisatawan mendapat kenyamanan yang seimbang. Namun kenyataannya masalah-masalah lingkungan dan sosial budaya tekait dengan kegiatan pariwisata belum dapat diidentifikasi secara komprehensif, sehingga berbagai keberatan dari masyarakat Baduy belum juga terselesaikan sampai saat ini.


Perjalanan ke Desa Kanekes 
Seluruh aktivitas budaya baik yang terkait dengan agrikultur maupun pengelolaan hutan di desa Kanekes selalu menarik perhatian pengunjung. Wisatawan tentu saja menjadi pengunjung dengan frekuensi tinggi, namun tidak jarang pula menarik sejumlah pejabat baik dari Jakarta maupun dan daerah-daerah di Propinsi Banten.
Beberapa masalah penting terkait dengan keberadaan masyarakat Baduy tersebut ternyata telah menjadi perhatian Departemen Pertanian. Kunjungan Dr. Ir. Sumarno, sebagai Direktur Jenderal Bina Produksi Hortikultura, ke Desa Kanekes pada tanggal 18 - 19 Mei 2004 lalu sesungguhnya merupakan cerminan kepedulian pemerintah pusat terhadap masalah-masalah yang timbul dalam masyarakat Baduy. Dengan kunjungan tersebut  diharapkan dapat dirumuskan beberapa permasalahan krusial dan mengajukan sejenis rekomendasi strategis yang erat kaitannya dengan bidang pertanian khususnya bagi pengembangan tanaman buah-buahan yang potensial di desa Kanekes dan sekitarnya. 
Setelah melakukan perjalanan dari Serang, ibukota Propinsi Banten dan dilanjutkan dengan singgah di pendopo Kabupaten Lebak di Rangkasbitung untuk sebuah pertemuan resmi dengan Bupati Lebak, Dr. Ir. Sumarno bersama beberapa pejabat dari Departemen Pertanian, Dinas Pertanian Propinsi Banten, Kabupaten Tangerang, Serang, Pandeglang serta Lebak memasuki wilayah Kecamatan Leuwidamar sekitar jam 21.00 WIB. 
Dengan beberapa pertimbangan teknis, Dirjen Hortikultura dan beberapa pejabat dari Deptan, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten, dan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak menginap di kediaman H. Sudirman, yang juga pernah diinapi mantan Presiden Soeharto sewaktu berkunjung ke Baduy, di Desa Cisimeut sekitar 7 km di luar Desa Kanekes. Sedangkan rombongan lainnya melanjutkan perjalanan ke Ciboleger (gerbang utama) untuk masuk ke Desa Kanekes. Rombongan kedua yang terdiri dari Kepala Dinas Pertanian dan Pertenakan Kabupaten Tangerang, Serang dan Pandeglang beserta dengan jajarannya itu, sambil mempersiapkan perjalanan esok hari ke Cibeo, bermalam di kampung Kaduketug III (Babakan Jaro), sebagai pemukiman Baduy Luar yang bertetangga dekat dengan Ciboleger (gerbang masuk ke perkampungan Baduy). Di kampung inilah Jaro Dainah, Kepala Desa Kanekes yang bertugas khusus menangani masalah-masalah administratif desa Kanekes berkedudukan.
Pagi hari, sekitar jam 7.00 WIB, rombongan Dirjen Bina Produksi Hortikultura sudah tiba di Ciboleger dan langsung menemui Jaro Dainah ditemani beberapa pejabat adat Desa Kanekes yang sudah menunggu di kediaman resminya di Kaduketug babakan. Setelah melakukan pembicaraan singkat, ritual penerimaan tamu secara resmi dilakukan yang kemudian diakhiri dengan tukar menukar cinderamata. Dirjen dan beberapa anggota rombongan secara simbolis diberi pakaian khas Baduy yang terdiri dari satu stel pakaian khas termasuk ikat kepala.
Setelah membahas beberapa cara paling mudah untuk berjalan kaki sejauh kira-kira 10 km menaiki dan menuruni bukit terjal, sekitar 30 orang diberangkatkan menaiki jalan setapak ke arah selatan dengan tujuan utama Cibeo, salah satu di antara tiga kampung Baduy Dalam yang relatif lebih dekat, untuk bertemu dengan Pu’un Cibeo, Bapak Nakiwin.  Rombongan tamu dari kota itu dipimpin oleh Jaro Dainah yang didampingi beberapa pejabat adat dari Baduy Dalam di bawah koordinasi Sdr. Alim alias Ayah Mursid. 
Dalam berbagai kesulitan mendaki dan menuruni bukit terjal pegunungan Baduy, rombongan tampak merasakan keaslian alam, ketika meluangkan pandangan ke seluruh landskap dari punggung perbukitan. Seluruh pandangan mata rombongan itu dapat menikmati pemandangan alam yang asri dan tenang di kejauhan. Di kiri kanan jalan setapak tampak pula pemandangan khas ladang-ladang masyarakat Baduy dengan latar belakang berupa hutan primer dan sekunder yang demikian terjaga kelestariannya. Demikian pula sungai-sungai yang tetap mengalirkan air yang bening, tampak sekali ibarat lukisan alam ketika berada di atas sasak rawayan (jembatan terbuat dari konstruksi bambu) yang dibuat seperti jembatan gantung. Pemandangan semakin menarik ketika berada di punggung-punggung bukit, gugusan gunung yang berada di sebelah barat laut (Gunung Karang dan Pulasari) dan di sebelah tenggara (pegunungan Kendeng) sangat jelas kelihatan dari perbukitan Baduy.
Sesekali para tamu dari kota itu bersyukur dapat menemukan tempat istirahat di beberapa saung huma (rumah ladang) yang diterima dengan ramah oleh pemiliknya. Umpan balik pun terasa di kalangan rombongan, agaknya karena situasi lingkungan alam seperti itu, ternyata telah membuat mereka memikirkan kembali jati diri masing-masing sebagai mahluk dan merasakan betapa besar kekuasaan Sang Pencipta.
Perjalanan yang ditempuh melalui jalur timur itu, memang merupakan jalur yang sengaja dipilih agar rombongan tidak menemui tanjangan yang terlalu terjal dan panjang. Konsekuensinya, jalur ini membutuhkan waktu relatif lama mengitari punggung bukit dan lembah-lembah yang kaya dengan air pegunungan. Melalui jalur ini hanya ditemukan sebuah kampung saja, yakni Kaduketer, kampung terakhir di wilayah Baduy Luar sebelum memasuki wilayah Baduy Dalam.
Kelompok pertama, terutama orang-orang muda mampu mencapai Ciboleger sekitar jam 12.00 siang. Sedangkan lainnya, sedikit demi sedikit menyusul sampai seluruhnya tiba sekitar jam 13.00. Dalam kelompok-kelompok kecil, mereka mencari tempat beristirahat melepaskan lelah yang amat sangat di rumah-rumah warga Baduy Dalam yang teduh.
Cibeo, begitulah penduduk menamai kampung itu, setelah melakukan perjalanan selama empat jam, Rombonan Dirjen Bina Produksi Holtikultura yang terus didampingi oleh Jaro Dainah dan Ayah Mursyid sebelum memasuki kampung Cibeo telah sampai pada tujuan utamanya, bertemu dengan sang Pu’un di saung huma (dangau) miliknya. Tidak ada penyambutan resmi, tidak ada upacara khusus atau formalitas lainnya seperti halnya di kota-kota besar. Di rumah ladang itulah dua orang anak bangsa, dengan berbagai perbedaan agama-kepercayaan, genealogi, budaya, dan peran sosial masing-masing dipersatukan dalam satu kepentingan:  menjaga kelangsungan hidup manusia dan sekaligus memelihara kelestarian lingkungannya.
Dalam format  “saling mendoakan” yang diikrarkan kedua tokoh itu, pada temu muka selama lima menit saja, di tengah alam pegunungan yang jauh dari hiruk-pikuk modernisasi, masing-masing membawa kesan sendiri untuk melakukan pesan-pesan pembangunan yang amat dibutuhkan masyarakat.  Sejumlah masalah pasti telah mengendap dalam kesucian hati keduanya. Bagi sang pu’un, kelangsungan hidup masyarakat Baduy masih dan akan terus bergantung pada alam dan lingkungannya, kalau tanah-tanah ulayat Baduy terus mengalami gangguan penebangan, penyerobotan lahan dan tekanan budaya dari orang-orang di luar Baduy, mereka tidak akan kemana-mana, mereka akan tetap hidup di “mandala”nya: Desa Kanekes. Bagaimana memecahkan permasalahan tersebut, itulah inti dari pertemuan itu.
Sebagai Direktur Jenderal waktu itu, tentu Dr. Ir. Sumarno beserta staf dan jajarannya di Departemen Pertanian atau di Dinas Pertanian Propinsi dan Kabupaten, memiliki pendekatan sendiri untuk membantu memecahkan masalah kehidupan masyarakat Baduy. Dengan melihat potensi perkebunan buah-buahan di daerah Baduy yang dapat meningkatkan produktivitas mereka di luar produksi beras, barangkali merupakan langkah awal yang baik untuk memulai memprogramkan pemberdayaan masyarakat di bidang pertanian, khususnya tanaman holtikultura yang sesuai dengan kondisi dan daya dukung alam perbukitan Baduy di Desa Kanekes.

Perjalanan pulang
Setelah semua anggota rombongan dan pengiring selesai menyantap makan siang berupa nasi timbel dengan lauk pauk seadanya, perjalanan pulang diarahkan ke jalur timur.  Jalur yang dianggap oleh orang Baduy paling mudah bagi orang kota dengan melewati jalan setapak yang tidak terlalu banyak tanjakan dan turunan yang terjal.
Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada, rombongan segera dihadapkan pada penurunan yang amat terjal dan panjang untuk menyeberangi sungai Ciujung; batas sebelah timur yang memisahkan Baduy Dalam dan Baduy Luar.  Sambil menyusuri tebing sungai yang amat curam, rombongan satu demi satu dan berurutan berjalan sampai ke kampung terdekat, Cipaler.  Sama seperti pada jalur keberangkatan, jalur inipun harus ditempuh selama sekitar empat jam untuk sampai ke Babakan Jaro di Kaduketug (base-camp).
Sepanjang perjalanan sesekali rombongan berpapasan dengan penduduk yang kembali dari ladang mereka. Seluruh kampung yang dilewati tampak tertata dengan rapih dan bersih. Pada setiap kampung itu tampak sekolompok leuit (lumbung) didirikan sedikit agak jauh dari pemukiman. Banyak jalan setapak seolah dibuat untuk kemudahan orang berjalan dengan diberi pengerasan menggunakan batu-batu sungai. Demikian pula beberapa tebing yang memisahkan satu rumah dan rumah lainnya, dipadatkan dengan batu-batu secara rapih dan artistk. Semua landskap itu amat ideal untuk program “desa wisata” di kawasan Baduy Luar.
Sesungguhnya bukan jarak tempuh yang berat, tetapi karena kelelahan yang hebat dengan kondisi tubuh yang pegal dan rentan keram otot, nyaris semua anggota rombongan mengharuskan diri beristirahat pada setiap kampung yang dilewati. Setelah melewati kampung Cipaler, rombongan tiba di Cicakal, dilanjutkan melalui kampung Marengo, Balingbing dan akhirnya sampai di Babakan Jaro saat matahari mulai tenggelam (magrib).
Malam itu juga rombongan Dirjen Bina Produksi Hortikulura langsung berpamitan untuk kembali ke Jakarta. Demikian pula rombongan Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten, Kabupaten Lebak, Tangerang, dan Pandeglang setelah makan malam di kedai nasi Ciboleger, kembali ke tempat asalnya masing-masing. Tetapi beberapa anggota rombongan yang karena kondisi tubuhnya tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan pulang, memilih untuk beristirahat dan menginap semalam lagi di rumah penduduk Baduy Luar di Kaduketug, Babakan Jaro.

Sekarang, setelah setiap anggota rombongan berada di dunianya masing-masing, mengenang perjalanan ke Cibeo ibarat membuka referensi baru untuk segera melakukan sesuatu yang penting baik bagi masyarakat Baduy sendiri di desa Kanekes maupun masyarakat lainnya di luar Desa Kanekes. Yang pasti, ekspedisi ke Cibeo bukan sekadar perjalanan turistik. Kunjungan kerja itu mestinya menjadi bahan pembahasan untuk merancang langkah pembangunan ke depan, khususnya di bidang pertanian.
Dari berbagai referensi terutama bersumber pada A.A. Pennings (1902), Yudistira Garna (1987), dan beberapa karangan lainnya baik berupa buku maupun artikel seperti Juwisno (1985), Nurhadi Rangkuti dkk (1988), Suhada (2003), diketahui bahwa Desa Kanekes yang dikenal sekarang merupakan perkembangan dari beberapa kebijakan yang telah diimplementasikan untuk menentukan status hukum pemukiman orang Baduy. Sampai saat ini, Kanekes merupakan sebuah desa adat di wilayah Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. 
Namun dibandingkan dengan nama Kanekes, kebanyakan orang lebih mengenal desa itu dengan nama Baduy, apakah untuk menyebut lingkungan (tanah Baduy) atau juga untuk menamai penduduknya (orang Baduy).  Keberadaan komunitas Baduy sesungguhnya telah diakui sejak abad XVIII ketika Kesultanan Banten masih berdiri di bawah pengawasan Pemerintah Hindia Belanda. Ketika itu secara resmi ada pengakuan dari Pemerintah Hindia Belanda melalui otoritas Kesultanan Banten bahwa wilayah Desa Kanekes mencakup bentang alam yang dibatasi oleh sepanjang aliran sungai Cisimeut sampai ke selatan pegunungan Kendeng.  Sejak itu batas ini dikenal sebagai batas “tanah titipan”.

Pengakuan pemerintah secara formal akan adanya kampung Baduy ini terjadi lagi pada awal abad XX, ketika pemerintah Hindia Belanda menerapkan program penanaman karet dalam mendukung industri getah di wilayah selatan Kabupaten Lebak.  Kebijakan kolonial dalam bidang perkebunan itu diawali dengan pengukuran batas-batas desa untuk menentukan lahan perkebunan, ladang serta lahan permukiman penduduk.
Desa Kanekes merupakan tempat kediaman orang Baduy yang memiliki kekhususan dalam mengurus soal-soal kemasyarakatan dan lingkungan alam sekitarnya. Sampai tahun 2000, desa adat Baduy mengalami pertumbuhan cukup signifikan. Dengan jumlah penduduk mencapai 7.317 jiwa,  Desa Kanekes telah memiliki tidak kurang dari 52 kampung dalam areal seluas 5.101,85 hektar. Namun, kendati berbagai perubahan tidak dapat dihindari dalam proporsi penduduk melalui pemekaran kampong-kampungnya, masyarakat Baduy masih tetap terikat pada kesatuan kawasan, keturunan dan juga budaya yang serupa (Garna, 1987; Suhada, 2003).
Pada periode ini pemukiman Baduy sudah diakui bukan hanya di Desa Kanekes saja, tetapi ada beberapa kampung milik mereka di luar desa Kanekes disebut dangka yang seluruhnya ada 9 dangka. Dari kesembilan dangka tersebut, hanya dua terletak di dalam desa Kanekes yaitu: Kaduketug dan Cihulu, sedangkan 7 kampung dangka lainnya berada di luar Kanekes, yaitu: Cihandam, Cilanggar, Panyaweuyan, Nungkula, Kamancing, Kompol dan Nangkabengkung.
Pada awal abad XX telah tercatat bahwa desa adat yang termasuk ke dalam sistem pemerintahan Kanekes ada 35 kampung yang terdiri dari 3 kampung tangtu (Baduy Dalam), 23 kampung panamping (Baduy Luar) dan 9 kampung dangka. Beberapa tahun kemudian terjadi penambahan kampung, tetapi tidak menampakkan kenaikan yang tinggi. Pada tahun 1941 misalnya, N.J.C. Geise, seperti dikutip Yudistira Garna (1987) mencatat ada 34 kampung di Desa Kanekes di luar kampung dangka. Kemudian pada tahun 1972 menjadi 39 buah kampung, dan tahun 1986 mencapai 43 kampung termasuk tiga kampung dangka di luar Desa Kanekes. Penambahan kampung yang relatif kecil itu disebabkan karena dampak dari program yang menekankan pertambahan kampung di luar desa Kanekes.
Pertambahan kampung yang lamban tersebut, menurut Garna (1987; 1988) merupakan bagian dari tradisi pemukiman dalam masyarakat Sunda. Sebuah pemukiman mulanya hanya terdiri dari beberapa rumah pada lahan baru yang biasanya disebut umbulan.  Jika tempat ini mengalami pertambahan beberapa rumah lagi, maka kumpulan rumah itu disebut babakan.  Babakan-babakan itu bisa bertambah besar karena banyak menarik penduduk untuk bertempat tinggal di tempat itu, tetapi dapat juga berkurang atau bahkan ditinggalkan karena beberapa pertimbangan, misalnya karena alasan adat, kondisi tanah dan ketersediaan air. Oleh karena itu jumlah kampung di desa Kanekes kerap kali berubah (Garna, 1984; 1987).
Untuk memastikan keberadaan permukiman Baduy ini, pada tahun 1986 Pemerintah Kabupaten Lebak telah memasang patok-patok beton di sekeliling Desa Kanekes. Bersamaan dengan itu Pemerintah Daerah juga mengupayakan pembagian administratif atas Desa Kanekes berdasarkan pengelompokan tiga kampung inti.  Ketiga kampung utama itu berada di daerah tangtu, tempat yang hanya diperuntukan bagi warga Baduy Dalam. Dalam system itu, Desa Kanekes dibagi ke dalam tiga blok. Blok pertama merupakan kumpulan kampung Baduy yang berpusat di Cibeo yang membawahi 9 buah kampung. Blok kedua terdiri dari 10 kampung yang berpusat di Cikartawana, dan Blok ketiga terdiri dari 16 kampung yang pusatnya berada di Cikeusik. Dengan demikian, kampung-kampung Baduy seluruhnya berjumlah 40 buah kampung yang pada umumnya berada di daerah Baduy Luar (panamping). Beberapa kelompok kampung Baduy Luar itu diantaranya mengalami penambahan dengan dibukanya pemukiman baru yang disebut babakan.

Budaya agrikultur
Desa Kanekes sebenarnya bukan hanya penamaan bagi lingkungan permukiman orang Baduy, tetapi juga didalamnya mencakup bentang alam yang cukup luas dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Lingkungan alam yang lazim dipandang sebagai “tanah titipan” itu terdiri dari daratan tinggi dengan lembah-lembah yang dialiri anak-anak sungai Ciujung mengalir ke pantai utara Jawa. Di antara lahan perbukitan baik yang landai maupun terjal itu terdapat areal pertanian padi kering (huma). Namun sebagian besar dari lingkungan Desa Kanekes merupakan hutan lindung yang subur dengan berbagai jenis pohon besar.  
Potensi hutan hujan tropik itu ternyata menarik minat penduduk di luar desa Kanekes untuk mengambil (menebang) kayu-kayu besar dan juga mengambil hasil hutan bagi keperluan mereka. Penduduk luar desa Kanekes itu jauh lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan orang Baduy yang mendiami lahan yang relatif kecil dan tertutup. Penebangan pohon-pohon besar itu sekarang tetap menjadi masalah baik bagi orang Baduy sendiri maupun bagi kepentingan keseimbangan ekosistem sekitarnya.
Mata pencaharian utama orang Baduy adalah pertanian lahan kering yang berpindah-pindah dalam waktu tertentu. Orang Baduy mungkin tinggal satu-satunya komunitas di Pulau  Jawa yang melanjutkan tradisi itu dengan hanya menggantungkan sumber kehidupannya pada ladang di mana padi menjadi tanaman utama. Dalam tradisi penanaman padi, orang Baduy tidak menggunakan alat seperti cangkul, bajak atau menggunakan pupuk dan anti hama yang modern. Alat kerja dominan mereka adalah parang, kujang, beliung, kored dan aseuk (tugal). Semua perkakas kerja itu dengan sendirinya menjelaskan tipe teknologi pertanian mereka yang merupakan warisan nenek moyang orang Baduy.
Pemilihan lahan untuk huma di dalam desa Kanekes ditentukan oleh adat, termasuk di dalam adat itu juga diatur durasi pengerjaan tanah itu serta cara pewarisannya dari generasi terdahulu kepada generasi berikutnya. Oleh karena itu lahan di sekitar Desa Kanekes baik bakal huma maupun bekas huma, hampir semuanya sudah dikerjakan dan menjadi milik garapan orang Baduy. Khusus untuk tanah yang berada di daerah territorial kampung tangtu (taneuh larangan), hanya diperuntukkan bagi orang Baduy Dalam, yang secara adat tidak diperkenankan bekerja di luar wilayah mereka. Sedangkan orang Baduy Luar dapat mengerjakan tanah di luar itu, bahkan sekarang banyak orang Baduy Luar memiliki dan mengerjakan tanah di luar Desa Kanekes.
Pengerjaan huma dapat memakan waktu selama 4 tahun. Bekas-bekas huma yang ditinggalkan itu akan berubah menjadi kebon (kebun) yang ditanami berbagai tanaman obat atau untuk keperluan upacara seperti: koneng beureum (Curcuma longum), honje (Ellataria speciosa), sirih (chavica betle), bongban (Momordica charantia), talas (colocasia esculenta), laja (Alpinia galanga), cengek (cabe rawit), roay (Dolichoa lablab), jahe (zingiber officinale) dan panglay (zingiber cassummanar).
Pada umumnya, jenis padi yang ditanam di huma selama satu kali dalam setahun itu terdiri dari 3 jenis, yaitu padi putih, padi merah dan padi hitam (sativa glutinosa). Dalam pengerjaan huma itu, setelah padi tumbuh beberapa bulan, ditanam pula tanaman tambahan seperti cabe rawit, ketimun, kacang panjang, katuk, kelor, labuh, watu (Sesamun inducum), pisang dan terong. Tanah huma yang telah selesai dikerjakan satu kali atau setahun masa tanam kemudian ditinggalkan untuk selama 4 hingga 7 tahun agar menjadi hutan kembali. Sebelum ditinggalkan, jika bekas huma itu miliknya, tanah akan ditanami berbagai tanaman keras seperti kelapa, aren, petai (parkia speciosa), rambutan, jengkol, durian, dukuh, kokosan (lansium domesticum) dan juga kopi.

Pengelolaan Hutan dan Kebun
Secara sekilas tampak bahwa lingkungan desa Kanekes, pada beberapa lokasi masih merupakan kawasan hutan lindung. Beberapa sumber tutur yang sempat diwawancarai dan dikuatkan oleh hasil penelitian ahli Antropologi, Kehutanan dan Pertanian, diketahui bahwa hutan di desa Kanekes ditumbuhi berbagai jenis pepohonan seperti aren, sempur (dilenia aurea enspeciosa), bungur, kihiang (albissia procera), rasamala (altingia exelsa), saninten (castanopsis soo), jamuju (podocarpus imbrikata Bc), kaliandra (caliandra caldothirtus Meisen), dan berbagai jenis bambu seperti: apus, lame (alstonea spectabilis) dan puspa (schima norohae reimo). Di beberapa bagian hutan, pohon kayu tertentu boleh ditebang untuk keperluan bahan pembuatan rumah tinggal, lumbung (leuit), keperluan rumah tangga dan upacara yang pelaksanaannya diatur sedekiman rupa supaya tidak habis dan tanaman baru dapat tumbuh lagi.
Karena pandangan seperti itu, orang Baduy membagi hutan sesuai dengan kemungkinannya untuk digunakan. Kategori hutan pertama disebut leuweung kolot (hutan tua), dimaksudkan untuk menyebut hutan yang terletak di bagian hulu dan pinggiran sungai, atau juga di pucak gunung. Kategori hutan kedua disebut leuweung tutupan (hutan tertutup) yang terletak di lereng gunung dan lembah. Dan untuk kategori hutan ketiga disebut leuweung ngora (hutan baru), dimaksudkan untuk menyebut bekas huma yang sudah ditinggalkan lebih dari 4 tahun pada mana pepohonan boleh ditebang dan dibuat huma kembali.  Pengelompokan hutan lainnya disebut jami, yaitu berupa semak belukar dan beberapa pohon besar. Dalam kategori hutan terakhir ini biasanya ditanami pohon durian, petai, kelapa, aren dan tanaman kebun lainnya.
Khusus untuk pohon aren, bagi masyarakat Baduy mempunyai peran amat penting, karena dari aren orang Baduy dapat memproduksi gula dalam jumlah besar. Perhitungan tahun 1972-3 diperkirakan produksi gula kawung mencapai 21.440 ton. Daya tarik ekonomi ini telah menyebabkan banyak tengkulak datang ke Desa Kanekes untuk didistribusikan ke pasar-pasar besar di Rangkasbitung dan kota-kota besar lainnya di Banten dan Jakarta.
Selain gula kawung, para tengkulak itu juga membeli berbagai jenis buah-buahan lokal yang amat laku di pasaran, yaitu durian, rambutan, dukuh, pisitan dan petai. Tengkulak itu pada umumnya pedagang besar yang berasal dari luar Baduy, tetapi sekarang banyak pula orang Baduy Luar yang menjadi tengkulak.

Rekomendasi  PATA Task Force
Sesungguhnya, berbagai masalah kontemporer itu pada pertengahan tahun 2002 telah menjadi perhatian khusus kalangan asosiasi pariwisata. Dalam kunjungan  PATA Task Force ke desa Kanekes, dihasilkan suatu rekomendasi yang penting bagi orang Baduy dalam mengahadapi kegiatan kepariwisataan.
Sekurang-kurangnya ada tiga butir yang direkomendasikan: (1) The Baduys may decide to stop accepting visitors to their village, yang merupakan skenario paling ekstrim untuk melarang masuk atau membolehkan masuk dengan izin khusus pihak otoritas Desa Kanekes, (2) Rotation system for Baduy villages, sebuah kemungkinan untuk meminimalkan dampak kunjungan dengan cara mengatur perjalanan ke obyek-obyek secara bergiliran, dan (3) Opening of all villages in outer Baduy; sebuah cara yang memungkinkan pembukaan semua kampung bagi kunjungan, tetapi perlu regulasi dan pengawasan yang tegas untuk menjamin agar desa Baduy tidak kebanjiran pengunjung. Dengan cara itu memungkinkan penduduk desa-desa  seluruh permukiman Baduy perlu mengikuti pelatihan  tentang Community Base Tourism (CBT).
Dengan konsep CBT itu, berbagai pertemuan harus diikuti oleh semua stakeholders untuk membahas sejumlah permasalahan seperti: (1) dampak pariwisata bagi kehidupan sosial, ekonomi dan lingkungan, (2) konsep-konsep CBT yang sesuai dengan adat-istiadat Baduy, (3) berbagai sumberdaya yang dibutuhkan untuk kepentingan itu, (4) manfaat langsung bagi komunitas Baduy dan terakhir (5) rencana aksi bagi program tersebut.
Berdasarkan pengalaman dari perjalanan ke Desa Kanekes, maka di sini penting untuk segera menyikapi rekomendasi tersebut. Berkenaan dengan rekomendasi pertama, saat ini menjadi tidak mungkin untuk dilaksanakan, karena sebagian masyarakat Baduy  terutama yang bermukim di zona panamping (Baduy Luar) telah memperoleh manfaat besar dari kunjungan pariwisata. Dengan menjual beberapa jenis barang kerajinan, mereka mendapatkan penghasilan tambahan di luar pendapatan pokoknya dari pertanian. Bahkan beberapa orang Baduy Luar kini semakin gencar memproduksi berbagai souvenir pariwisata untuk memasok toko-toko di pintu masuk Cibologer.
Berkenaan dengan rekomendasi kedua, bisa dilakukan tetapi dengan beberapa kondisi (syarat). Hal ini perlu dipromosikan mengingat sampai sekarang belum ada aturan yang membatasi jumlah pengunjung dalam periode waktu tertentu, akibatnya terjadi gangguan terhadap aktivitas sehari-hari masyarakat Baduy. Dengan kata lain, privasi warga Baduy kerap terganggu oleh para wisatawan dalam jumlah besar (mass tourism) terutama pada hari suci (kawalu). Dengan tujuan untuk mencegah konsentrasi pengunjung pada satu tempat, maka kemungkinan untuk membuka gate way baru di beberapa pintu masuk bukan sesuatu yang ditabukan. Persoalannya hanya terletak pada sistem administrasi Desa Kanekes  yang demikian luas, tetapi hanya terpusat pada satu pelayanan, yaitu di Babakan Kadu Ketug, tempat kediaman Jaro Pamarentah (kepala administratif).
Sedangkan untuk rekomendasi ketiga, hal itu sudah dilakukan dengan sendirinya oleh warga Baduy sendiri, karena adanya anggapan bahwa pemukiman panamping (daerah Baduy Luar) memang terbuka untuk umum dengan aturan yang dapat ditoleransi bagi dua kepentingan: pariwisata dan pelestarian alam dan budaya.  Masalah yang kerap muncul ke permukaan adalah karena banyak rombongan wisatawan membawa guide bukan orang Baduy, dan belum semua memahami aturan-aturan adat yang harus dipatuhi.

Penutup
Perjalanan ke perkampungan Baduy bagi stakeholders pariwisata sangat bermanfaat bagi penemuan masalah sebelum menentukan kebijakan yang perlu dibuat untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terkait dengan kegiatan kepariwisataan. Dalam bidang pertanian, telah diindentifikasi bahwa pada hutan-hutan dan perkebunan tradisional Baduy, beberapa jenis tumbuhan buah-buahan yang dapat dijadikan sejenis plasma-nutfah. Pengembangan produksi pertanian dan holtikultura dapat mengembangkan keanekaragaman produk pariwisata yang selama ini selalu dikonsumsi sendiri.
Permasalahan yang paling krusial sekarang adalah persoalan limbah akibat kunjungan wisatawan dalam frekuensi dan intensitas tinggi. Masyarakat Baduy, yang karena komitmen dan upayanya yang keras untuk memelihara lingkungan, pada tahun 2004  telah memperoleh penghargaan baik dari pemerintah berupa “Kalpataru” maupun dari lembaga swadaya masayarakat berupa “Kehati Award”. Namun para wisatawan hampir selalu memberi kesulitan bagi masyarakat Baduy dengan berbagai jenis sampah di sepanjang jalan antara perkampungan ‘Baduy Luar’ dan ‘Baduy Dalam’. Sebaliknya masyarakat Baduy juga menemukan kesulitan untuk mengawasi pembuangan sampah terutama non-organik seperti plastik dan bahan industri lainnya. 
Pertanyaannya, sampai kapan mereka harus terus bergotongroyong membersihkan lingkungannya pada setiap akhir musim liburan atau menjelang hari raya “Kawalu”. Menghadapi persoalan ini, haruskah kita usulkan agar setiap wisatawan membayar jaminan atau denda untuk setiap kali mereka membuang sampah? 
Masalah lain terkait dengan pemberdayaan warga Baduy dalam kegiatan pariwisata. Apa yang direkomendasikan oleh PATA Task Force untuk menerapkan konsep Community Base Tourism (CBT) sesungguhnya bukan hanya bagi masyarakat Baduy, tetapi yang harus didahulukan pertama sekali adalah masyarakat di luar Desa Kanekes yang justeru lebih banyak memanfaatkan kegiatan pariwisata Baduy dengan berbagai layanan publik yang dibutuhkan wisatawan. Sementara masyarakat Baduy sampai saat ini tetap menjadi petani yang masih menolak baca-tulis, dengan jadwal aktivitas sehari-hari yang pasti untuk bekerja di ladang atau beristirahat di rumah masing-masing dan dalam waktu-waktu tertentu harus melakukan upacara ritual tanpa gangguan penduduk luar. Sasaran kedua adalah wisatawan sendiri, agar sebelum memasuki kawasan pemukiman Baduy, hendaknya mendapatkan informasi yang cukup tentang tata cara berwisata ke Desa Kanekes.
Apabila Direktorat Jenderal Holtikultura, Departemen Pertanian telah melakukan kunjungan kerja untuk menemukan masalah-masalah pertanian yang sekarang sedang dihadapi masyarakat Baduy, bukankah sudah menjadi keharusan instansi-instansi yang menangani sektor pariwisata untuk menyelesaikan permasalahan yang diakibatkan oleh kegiatan pariwisata yang sedang dihadapi masayarakat Baduy sekarang, setidaknya dapat melakukan cross-chek sebelum mengimplementasikan rekomendasi  PATA Task Force 2002.
Hal itu perlu dipertimbangkan sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi akibat kecenderungan pariwisata yang terus berkembang. Tindakan cross-chek sangat terkait erat dengan semakin bertambahnya apa “yang boleh” dan “yang tidak boleh” dilakukan oleh pengunjung di kawasan Desa Kanekes.
Sebelum menutup tulisan ini ada baiknya disebutkan hal-hal pokok yang harus diperhatikan oleh pengunjung. Menurut Kepala Desa Kanekes, seperti juga sebagian telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris di dalam  PATA Task Force Report, bahwa pengunjung harus mematuhi segala aturan yang telah ditetapkan oleh adat sebagaimana disebutkan di bawah ini:  (1) setelah mengisi buku tamu, pengunjung tidak diperbolehkan untuk (2) membawa radio, tape recorder, alat foto atau kamera, dan berbagai jenis senjata, (3) membunuh binatang kecuali untuk mempertahankan diri, (4) membuang sampah di seluruh areal desa atau sungai, (5) membuang puntung rokok sembarangan. Di luar kelima hal tersebut di atas masih ada beberapa aturan lain yang harus dikomunikasikan dengan Kepala Desa Kanekes atau orang yang ditunjuk untuk memberikan penjelasan kepada pengunjung. Dengan mengikuti aturan pokok tersebut di atas, di satu pihak setiap wisatawan dapat dengan leluasa melakukan kegiatan wisata dan di lain pihak masyarakat setempat pun akan senang hati menerima kehadiran wisatawan.

Daftar Pustaka

Fadillah, Moh. Ali.  “Mitos Gunung Suci di Pandeglang, Banten: Sebuah Kontemplasi Arkeologis”, dalam Tony Djubiantono & Moh. Ali Fadillah (eds.), Manusia dan Lingkungan: Keberagaman Budaya dalam Kajian Arkeologi, Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.
Garna, Yudistira K. 1988. “Perubahan sosial budaya Baduy”, dalam Orang Baduy dari Inti Jagat, Jakarta: Bentara Budaya.
Garna, Yudistira, K. 1987. Orang Baduy, Bangi: Unversitas Kebangsaan Malaysia.
Juwisno, 1985. Potret Kehidupan Masyarakat Baduy, Serang.
Michrob, Halwany. 1988. “Lebak Sibedug dan Arca Domas di Banten Selatan  sebagai Aspek Budaya Nusantara Masa Sebelum Islam”, Serang: Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama.
Pennings, A.A. 1902. “De Badoewi’s in verband met enkele oudheden in de Residentie Bantam”, dalam TBG, XLV: 370-386.
Rangkuti, Nurhadi (ed.). 1988. Orang Baduy dari Inti Jagat, Jakarta: Bentara Budaya.
Sedyawati, Edi. 1996. “Kebudayaan Banten dalam kaitannya dengan Wawasan Kebudayaan Nasional”, dalam Hasan M. Ambary (ed.), Masyarakat dan Budaya Banten, Jakarta: Puslit Arkenas.
Suhada. 2003. Masyarakat Baduy dalam Rentang Sejarah. Serang: Biro Humas Propinsi Banten.
Noakes, S. et.al. 1992. “PATA Task Force Report on Banten and Lampung Provinces, Republic of Indonesia”,  Bangkok: Pacific Asia Travel Association.








 

Aucun commentaire:

Enregistrer un commentaire